Euforia Erau: Tradisi Pesta Rakyat Kutai Kartanegara yang Mendunia

Menyelami kemegahan budaya, ritual sakral, dan kemeriahan festival warisan nenek moyang di tanah Kalimantan Timur.

Avatar photo

- Pewarta

Jumat, 7 Agustus 2026 - 07:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keramaian masyarakat Kutai Kartanegara saat mengikuti ritual Belimbur, di mana mereka saling menyiramkan air sebagai simbol pembersihan diri dan kegembiraan. Tradisi ini menjadi salah satu puncak perayaan Pesta Erau yang selalu dinanti setiap tahunnya.

Keramaian masyarakat Kutai Kartanegara saat mengikuti ritual Belimbur, di mana mereka saling menyiramkan air sebagai simbol pembersihan diri dan kegembiraan. Tradisi ini menjadi salah satu puncak perayaan Pesta Erau yang selalu dinanti setiap tahunnya.

Bayangkan sebuah perayaan yang telah berlangsung selama berabad-abad, menghidupkan kembali kisah kejayaan sebuah kerajaan kuno dengan kemegahan upacara adat dan semaraknya pesta rakyat yang memukau.

Itulah Pesta Erau di Kutai Kartanegara, sebuah festival budaya yang setiap tahunnya berhasil menarik perhatian ribuan pengunjung dari berbagai penjuru dunia untuk menyaksikan keindahan tradisi nusantara.

Erau, yang secara harfiah berarti “ramai”, mencerminkan semangat kebersamaan dan kegembiraan yang melingkupi seluruh lapisan masyarakat saat merayakan warisan leluhur mereka.

ADVERTISEMENT

RILISPERS.COM

SCROLL TO RESUME CONTENT

Festival ini bukan sekadar tontonan biasa, melainkan sebuah manifestasi mendalam dari kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun, menggambarkan eratnya ikatan antara manusia dan alam.

Setiap tanggal 24 Juli hingga 31 Juli, Tenggarong, ibu kota Kutai Kartanegara, bertransformasi menjadi panggung raksasa untuk berbagai ritual sakral, pertunjukan seni tradisional, dan aneka lomba yang menghibur.

Salah satu puncak acara yang paling dinanti adalah ritual Bepelas, sebuah upacara penyucian dan tolak bala yang dilakukan oleh Sultan Kutai Kartanegara beserta kerabatnya di Keraton Kesultanan Kutai.

Ritual tersebut begitu khidmat, menggetarkan hati para penonton yang menyaksikannya, seolah membawa mereka kembali ke masa lalu saat kerajaan masih berjaya dengan segala keagungannya.

Kemudian, ada pula ritual Belimbur, momen yang paling ditunggu-tunggu karena semua orang tumpah ruah ke jalanan untuk saling menyiramkan air, melambangkan pembersihan diri dan penyambutan berkah.

Momen Belimbur ini terasa begitu menyegarkan dan penuh keceriaan, menyatukan masyarakat dalam gelak tawa, persahabatan, serta kebersamaan yang tulus tanpa sekat.

Para pengunjung dari luar daerah, bahkan mancanegara, seringkali ikut bergabung dalam kemeriahan Belimbur, merasakan langsung kegembiraan yang begitu menular dari tradisi unik ini.

Selain ritual utama, Erau juga dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan kesenian daerah yang memukau, seperti Tari Jepen yang energik dan Tari Hudoq yang misterius dengan topeng-topeng uniknya.

Setiap gerakan tari dan iringan musik tradisional yang dipersembahkan tidak hanya indah dipandang mata, tetapi juga mengandung makna filosofis yang mendalam tentang kehidupan masyarakat Kutai.

Tak ketinggalan, ada pula lomba perahu naga di Sungai Mahakam, salah satu sungai terpanjang di Indonesia, yang menambah semarak suasana dengan adu kecepatan dan semangat kompetisi.

Deretan perahu dihias dengan motif-motif khas Kutai, melaju cepat membelah arus sungai diiringi sorakan penonton yang membakar semangat para peserta lomba.

Festival Erau juga merupakan ajang penting bagi para pengrajin lokal untuk memamerkan dan menjual hasil karya mereka, seperti kain tenun, anyaman rotan, serta perhiasan tradisional.

Ini memberikan kesempatan bagi perekonomian lokal untuk tumbuh, sekaligus memperkenalkan kekayaan produk kerajinan tangan khas Kutai kepada khalayak yang lebih luas.

Pengunjung bisa dengan leluasa berinteraksi langsung dengan para pengrajin, melihat proses pembuatan, dan bahkan mencoba beberapa teknik dasar kerajinan tersebut.

Mencicipi kuliner khas Kutai Kartanegara juga menjadi bagian tak terpisahkan dari pengalaman Erau, dengan hidangan lezat seperti Gence Ruan, Nasi Bekepor, dan Lawar yang menggugah selera.

Setiap sajian kuliner tradisional ini menyimpan cerita panjang tentang rempah-rempah lokal dan cara pengolahan yang diwariskan dari generasi ke generasi, menjadikan pengalaman bersantap semakin kaya.

Melihat antusiasme masyarakat dan para wisatawan yang selalu membanjiri Pesta Erau setiap tahunnya, festival ini telah membuktikan diri sebagai salah satu aset budaya berharga Indonesia.

Penyelenggaraan Erau yang konsisten menjaga nilai-nilai luhur tradisi di tengah gempuran modernisasi adalah sebuah upaya luar biasa yang patut diapresiasi dan terus didukung.

Bagi mereka yang belum pernah berkunjung, merencanakan perjalanan ke Kutai Kartanegara pada penghujung Juli tahun depan untuk merasakan langsung keajaiban Erau adalah pilihan yang sangat bijak.

Pengalaman menyelami keunikan budaya Kutai, berinteraksi dengan masyarakat lokal yang ramah, serta menikmati kemeriahan festival ini akan menjadi memori tak terlupakan seumur hidup.

Erau adalah sebuah janji bahwa warisan leluhur tidak akan pernah pudar, melainkan akan terus hidup dan berkembang dalam pelukan generasi penerus yang bangga akan identitasnya.

Jadi, siapkan diri Anda untuk terhanyut dalam pesona Pesta Erau, merayakan keberagaman budaya Indonesia yang tak terbatas dan selalu menyimpan kejutan menawan.

Berita Terkait

Wehea: Jantung Borneo yang Terlupakan, Penjaga Hutan Purba Kalimantan
Menggali Kembali Kemegahan Kutai Martadipura: Jejak Kerajaan Tertua Nusantara
Mengintip Belian, Ritual Penyembuhan Suku Dayak Benuaq di Pedalaman Kalimantan
Wehea: Jantung Borneo yang Berdetak, Oase Kehidupan Liar Tersembunyi
Menggali Kembali Kejayaan Kutai: Kisah Peradaban Tertua Nusantara yang Terlupakan
Menguak Tirai Waktu: Jejak Gemilang Kerajaan Kutai Martadipura di Tanah Borneo
Rumah Lamin: Jantung Budaya Dayak yang Abadi di Tengah Perubahan Zaman
Menguak Tirai Sejarah Kutai: Kerajaan Hindu-Buddha Pertama Nusantara yang Terlupakan

Berita Terkait

Jumat, 7 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Euforia Erau: Tradisi Pesta Rakyat Kutai Kartanegara yang Mendunia

Kamis, 6 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Wehea: Jantung Borneo yang Terlupakan, Penjaga Hutan Purba Kalimantan

Rabu, 5 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Menggali Kembali Kemegahan Kutai Martadipura: Jejak Kerajaan Tertua Nusantara

Senin, 3 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Mengintip Belian, Ritual Penyembuhan Suku Dayak Benuaq di Pedalaman Kalimantan

Minggu, 2 Agustus 2026 - 07:00 WIB

Wehea: Jantung Borneo yang Berdetak, Oase Kehidupan Liar Tersembunyi

Berita Terbaru

Pers Rilis

Huawei Jadi Mitra bagi Ajang GSMA M360 ASEAN 2026

Jumat, 7 Agu 2026 - 00:42 WIB