BEIJING, 23 April, 2026 /PRNewswire/ — CATL meluncurkan enam inovasi teknologi dalam ajang "Super Technology Day" di Beijing. Inovasi tersebut meliputi Baterai Shenxing Superfast Charging generasi ketiga, Baterai Qilin generasi ketiga, Baterai Qilin Condensed, Baterai Freevoy Super Hybrid generasi kedua, Baterai Naxtra Sodium-ion, serta solusi terintegrasi yang mencakup supercharging dan penukaran baterai. Melalui sederet inovasi ini, CATL menjawab kebutuhan mobilitas untuk berbagai skenario penggunaan.
Di ajang ini, Chief Scientist, CATL, Wu Kai, menjelaskan keunggulan, keterbatasan, dan arah pengembangan berbagai bahan kimia baterai. Ia menilai, baterai LFP telah mendekati batas densitas energi secara teoretis. Dengan karakteristik tersebut, pengembangan baterai LFP lebih efektif jika difokuskan pada kemampuan fast charging ekstrem agar tercapai keseimbangan kinerja yang optimal. Di sisi lain, baterai NCM tetap unggul dari sisi densitas energi dan menjadi tolok ukur utama dalam persaingan global. Sementara itu, baterai natrium-ion sangat potensial untuk penggunaan di suhu ekstrem dan sistem penyimpanan energi. Menurutnya, industri baterai perlu mengembangkan berbagai sistem kimia baterai secara paralel demi memenuhi kebutuhan konsumen, ketahanan energi, dan pembangunan berkelanjutan.
Chairman & CEO, CATL, Robin Zeng, menegaskan bahwa inovasi industri harus berlandaskan pendekatan ilmiah yang kuat. Ia menilai, daya saing teknologi Tiongkok tidak hanya ditentukan oleh kecepatan dan skala, namun juga kualitas inovasi, validasi teknologi, serta kredibilitas merek.
Baterai Shenxing Superfast Charging Generasi Ketiga: Fitur Superfast Charging yang Tidak Mengorbankan Usia Pakai Baterai
Dari sisi elektrokimia, tantangan utama dalam meningkatkan kecepatan pengisian daya tanpa mengurangi usia pakai baterai terletak pada kenaikan suhu, bukan arus kecil. Berdasarkan prinsip Arrhenius, kenaikan suhu 10°C dapat menggandakan reaksi samping di dalam baterai dan mempercepat degradasi.
Untuk itu, Baterai Shenxing Superfast Charging Generasi Ketiga mengoptimalkan tiga aspek utama: mengurangi panas saat baterai beroperasi, meningkatkan manajemen penyebaran panas (thermal propagation), serta menyempurnakan kontrol sistem. Hasilnya, setelah 1.000 siklus pengisian daya, kapasitas baterai tetap di atas 90%.
Secara performa, baterai ini mencapai laju pengisian daya setara 10C dengan puncak hingga 15C—termasuk performa terbaik di industri. Pengisian daya dari 10% hingga 35% tercapai hanya dalam 1 menit, 10% ke 80% dalam 3 menit 44 detik, dan 10% ke 98% dalam 6 menit 27 detik. Bahkan, pada suhu −30°C, pengisian daya dari 20% ke 98% hanya membutuhkan sekitar 9 menit.
Teknologi ini juga dipadukan dengan sistem pemanasan mandiri (self-heating) baterai serta jaringan pengisian dan penukaran baterai terintegrasi sehingga superfast charging dapat dilakukan di suhu rendah tanpa bergantung pada infrastruktur tertentu.
Baterai Qilin Generasi Ketiga: Lebih Ringan, Lebih Kuat, Lebih Efisien, Mengubah Keunggulan EV
Selama ini, peningkatan jarak tempuh EV berbasiskan baterai LFP umumnya tercapai dengan menambah kapasitas baterai namun berdampak pada peningkatan bobot.
Baterai Qilin generasi ketiga menghadirkan pendekatan berbeda dengan densitas energi 280 Wh/kg dan jarak tempuh hingga 1.000 km, sekaligus mendukung pengisian superfast charging 10C.
Baterai ini menghasilkan daya puncak hingga 3 MW—peningkatan dua kali lipat dari generasi sebelumnya yang dipakai untuk kompetisi balap di Sirkuit Nürburgring (1.330 kW).
Bobot total paket Baterai Qilin generasi ketiga hanya berbobot 625 kg, lebih ringan 255 kg dibandingkan sistem LFP sejenis, sekaligus menghemat ruang hingga 112 liter. Efisiensi ini menghasilkan dampak signifikan:
- Konsumsi energi per 100 km menurun lebih dari 6%, atau hemat sekitar 0,78 kWh per 100 km. Jika diterapkan pada satu juta kendaraan dengan jarak tempuh 20.000 km per tahun, total penghematan listrik mencapai 156 juta kWh, menurunkan emisi CO₂ hingga 78.500 ton.
- Peningkatan performa dan keselamatan berkendara, mencakup akselerasi 0–100 km/jam yang lebih cepat 0,6 detik, penurunan risiko saat menyalip hingga 12%, peningkatan kecepatan dalam uji moose sebesar 8%, pengurangan body roll 6,5%, peningkatan kemampuan menghindari rintangan sebesar 15–25%, serta jarak pengereman yang lebih pendek sekitar 1,44 meter.
- Daya tahan EV juga meningkat dengan usia pakai komponen sasis yang bertambah 40% dan usia pakai ban bertambah lebih dari 30% sehingga interval penggantian komponen bertambah setidaknya 10.000 km. Penghematan ruang hingga 112 liter juga menambah headroom di kabin minimal 18 mm.
Dari sisi keselamatan berkendara, baterai ini mengadopsi standar NP (No Thermal Propagation) dengan konsep "pemisahan termal dan listrik". Setiap sel baterai dilengkapi saluran pembuangan (sealed exhaust) independen untuk mencegah penyebaran panas, memastikan panas dan arus listrik dikelola secara terpisah.
Baterai Qilin Condensed: Teknologi Berstandar Industri Penerbangan yang Pertama Kali Diterapkan pada Mobil Penumpang
Baterai Qilin Condensed untuk pertama kalinya menghadirkan teknologi berstandar industri penerbangan pada mobil penumpang dengan densitas energi sel mencapai 350 Wh/kg dan densitas volumetrik 760 Wh/L—rekor baru untuk baterai produksi massal. Dengan teknologi ini, jarak tempuh tercatat hingga 1.500 km untuk sedan dan lebih dari 1.000 km untuk SUV besar. Meski demikian, bobot paket baterai tetap berada di bawah 650 kg.
Baterai ini menggunakan katoda nikel tinggi dan anoda silikon-karbon berekspansi rendah, meningkatkan densitas energi hingga 50 Wh/kg. Komponen casing berbahan campuran titanium kelas aviasi—inovasi pertama di industri—mengurangi ketebalan baterai hingga 60% dan bobot hingga 30%, sekaligus meningkatkan kekuatan unit hingga tiga kali lipat, serta menambah densitas energi sebesar 20 Wh/kg.
Teknologi ini dikembangkan dari program pesawat terbang listrik CATL. Dalam program ini, sistem baterai dengan densitas 500 Wh/kg telah lolos uji terbang perdana pada pesawat berbobot 4 ton, dan kini tengah menjalani validasi lanjutan untuk pesawat di atas 8 ton.
Dengan menggantikan elektrolit cair menjadi sistem terkondensasi, baterai ini menghilangkan risiko kebocoran dan pembakaran—menghadirkan konsep "tanpa cairan sehingga mencegah kebocoran dan kebakaran". CATL juga mengadopsi kolektor arus komposit baru yang berfungsi sebagai sekring cepat dalam kondisi ekstrem seperti korsleting internal.
Baterai Freevoy Super Hybrid Generasi Kedua: Era Hybrid dengan Jarak Tempuh Sistem Penggerak Elektrik hingga 600 km
Baterai Freevoy Super Hybrid generasi kedua mampu menambah jarak tempuh sistem penggerak elektrik hingga 600 km dan mendukung superfast charging 10C sebagai standar. Teknologi ini memperkenalkan konsep "super hybrid" yang memadukan material LFP dan NCM melalui pencampuran bertahap secara seragam dengan struktur kristal olivin dari LFP sebagai fondasi utama sehingga tercipta integrasi material hingga tingkat partikel.
Hasilnya, baterai ini memiliki densitas energi 230 Wh/kg dan meningkatkan jarak tempuh lebih dari 15% tanpa menambah bobot paket baterai dibandingkan sistem LFP konvensional. Teknologi tersebut mewujudkan cakupan penggunaan yang luas, mulai dari kebutuhan keluarga hingga kendaraan hybrid kelas premium.
Varian LFP mampu menempuh hingga 500 km dalam moda pure electric, mendukung pengalaman "cukup mengisi daya seminggu sekali" untuk penggunaan harian. Sementara itu, varian NCM mampu melampaui jarak tempuh 600 km dalam moda pure electric, dengan total jarak tempuh kendaraan lebih dari 2.000 km—menghadirkan fleksibilitas antara penggunaan harian dan perjalanan jarak jauh.
Sistem ini menghasilkan daya instan hingga 1,5 MW saat daya baterai terisi penuh, dan tetap mempertahankan 1,2 MW pada kondisi 20% SOC, mengatasi penurunan performa pada level baterai rendah. Dalam kondisi off-road yang membutuhkan daya lebih dari 350 kW, sistem ini mampu menyediakan lebih dari tiga kali kebutuhan tersebut, memastikan performa tetap stabil.
Dari sisi keamanan, baterai ini dilengkapi lapisan pelindung bawah yang mampu menahan energi benturan hingga 1.500 joule—10 kali lipat dari standar nasional—serta sistem kedap air yang memungkinkan baterai terendam hingga kedalaman 2 meter selama lebih dari 200 jam tanpa penurunan performa.
Baterai Natrium-ion Naxtra: Menuju Industrialisasi Skala GWh
Baterai natrium-ion Naxtra menandai transisi CATL dari terobosan laboratorium menuju produksi massal berskala besar. Dengan mengatasi ratusan tantangan rekayasa, CATL berhasil mencapai tahap industrialisasi pada level gigawatt-hour (GWh).
Pada 2026, CATL berhasil menjawab empat tantangan utama dalam produksi massal baterai natrium-ion, yakni pengendalian kadar air ekstrem, pembentukan gas pada karbon keras, adhesi aluminium foil, serta sistem anoda self-forming. Pencapaian ini membuka jalan bagi penerapan skala besar yang andal, dengan target produksi massal pada akhir 2026.
Jaringan Terintegrasi yang Mencakup Supercharging dan Penukaran Baterai: Arsitektur Pengisian Energi Terpadu
CATL juga memperkenalkan jaringan terintegrasi yang mencakup supercharging dan penukaran baterai sebagai satu sistem terpadu, bukan solusi terpisah. Sistem ini dibangun dengan tiga pilar utama—home charging, public charging, dan penukaran baterai—untuk menciptakan ekosistem pengisian energi yang optimal. Seluruh stasiun penukaran baterai "Choco-Swap" untuk kendaraan penumpang dan "QIJI" untuk truk berat akan dilengkapi sistem supercharging Shenxing. Dengan demikian, setiap stasiun berfungsi ganda sebagai titik penukaran baterai sekaligus pusat charging berdaya besar, menghadirkan sinergi antara pengisian dan penukaran baterai (charge–swap).
Stasiun charge–swap ini juga dilengkapi gardu listrik berukuran ringkas, serta modul charging terpadu, sehingga mampu mengurangi tahapan konversi energi dan menekan kehilangan daya lebih dari 13 poin persentase dibandingkan stasiun pengisian konvensional berbasiskan penyimpanan energi. Dalam kondisi darurat, baterai di stasiun dapat langsung menyalurkan daya ke unit pengisian. Dengan demikian, tingkat utilisasi peralatan meningkat hingga di atas 85%. Sistem ini juga mendukung peningkatan kapasitas layanan hingga tiga kali lipat per slot parkir dibandingkan stasiun konvensional, sekaligus menghemat biaya investasi pada segmen pengisian supercharging menjadi hanya seperlima dari sistem sejenis.
CATL meluncurkan baterai Choco-Swap #26 dengan arsitektur tegangan tinggi 800V. Pengembangan tahap awal mencakup varian berkapasitas 75 kWh, sedangkan versi yang lebih besar akan menyusul. Baterai ini sepenuhnya kompatibel dengan kendaraan 800V di segmen B hingga C. Dengan peluncuran ini, sistem Choco-Swap memperluas cakupan hingga seluruh lini kendaraan dari segmen A0 hingga C.
Dari sisi pengembangan jaringan, CATL menargetkan pembangunan 4.000 stasiun charge–swap terintegrasi hingga akhir 2026 untuk menjangkau hampir 190 kota serta jaringan jalan tol nasional dengan 12 koridor vertikal dan 11 koridor horizontal. Hingga saat ini, jaringan Choco-Swap telah meliputi 1.470 stasiun di 99 kota dengan ekspansi yang semakin cepat.
Bersama produsen otomotif dan mitra energi, CATL juga akan mengembangkan "jaringan charge–swap sharing" berbasiskan kolaborasi teknologi, konektivitas tanpa hambatan, dan investasi bersama. Mitra awal mencakup Changan, Chery, GAC, Seres, SAIC-GM-Wuling, dan BAIC, dengan target membangun lebih dari 100.000 fasilitas pengisian energi bersama hingga akhir 2028.
Menuju Solusi Energi Terintegrasi untuk Semua Skenario
Mulai dari lima produk baterai yang mencakup seluruh spektrum material hingga jaringan terintegrasi pengisian daya dan penukaran baterai, CATL telah membangun rantai nilai yang lengkap—mulai dari produk hingga infrastruktur.
Ke depan, CATL akan terus berinvestasi dalam riset lanjutan, manufaktur berskala besar, serta kolaborasi ekosistem guna mempercepat transisi dari inovasi parsial menuju solusi energi menyeluruh, sehingga manfaat kemajuan teknologi dapat dirasakan di seluruh skenario mobilitas.



























